Sebenernya saya tak ada maksud mo cerita soal bapak kemerdekaan Amerika Serikat hari ini. Toh, saya bukan sejarawan dan bukan pula sedang dalam rangka menulis sesuatu yang berbau ke-Amerika-an. Semuanya bener-bener "unexpected"
Ceritanya lumayan panjang dan tidak sedikit menyimpang dari apa yang seharusnya. Tapi yaitu-lah gunanya saya menulis disini, mencoba meninggalkan sesuatu dari setiap detik yang telah saya lewati. Berharap kelak ketika saya membukanya kembali, kejadian demi kejadian itu tetap hidup dan menjadi dongeng nyata yang turut andil mengantarkan saya ke masa depan.
Bermula dari cita-cita mulia saya dan Abang (baca: Harris Agustian) tahun lalu, saat kami akhirnya punya waktu untuk melakukan one day light tracking di Situ Gunung, Sukabumi. Kegembiraan kala itu membuat kami sepakat untuk menemukan tempat lain yang dapat menjadi ajang olah raga dan olah pikiran (baca : refreshing) yang tidak perlu makan waktu, dalam arti tak perlu menginap aka cukup pulang balik di hari yang sama. Kami sepakat, kebahagiaan dan kegembiraan macam itu sangat mudah didapat. Hanya butuh niat. Sedangkan kesempatan akan muncul melalui tekad yang bulat ^^
Dan seminggu yang lalu, saya mencoba sounding ide tracking ke Cibodas ke Abang yang disambut dengan anggukan, yeay!!!! cuman masalahnya timing-nya menjadi ga jelas lantaran musim kuliah sudah mulai. Sempet menciut lantaran ga bakalan bisa pergi sampe masa kuliah berakhir. Tapi alhamdulillah, karena masih dalam masa2 low season kami memutuskan untuk tetap pergi di hari minggu. Meeting point kali ini, terminal Kampung Rambutan (Jadi Deja Vu masa hunting bus ke Pangandaran).
Pukul 07.02 kami bertemu di terminal Kampung Rambutan, tepatnya di depan sekumpulan papan nama kota tujuan bus setelah melewati peron terminal. Berdasarkan nanya temen plus coba searching via Mbah Google, ada dua rute yang dapat ditempuh dari Kampung Rambutan menuju Cibodas. Pertama, direct bus tujuan Cianjur yang langsung mengantarkan penumpang dari Kampung Rambutan ke Cibodas. Yang kedua, Bus dari Kampung Rambutan tujuan Ciawi. Nah setibanya di perempatan Ciawi, untuk menuju Cibodas penumpang masih harus "oper" ke minivan (colt) warna putih. Dan kami memilih option pertama.
Bus Dua Ibu tujuan Cianjur yang kami tumpangi lumayan nyaman untuk kategori bus Ekonomi. Di Indonesia, bus umum memang di dapuk dengan kursi berukuran mini yang di setting dengan formasi dua-tiga. Saya mencoba tidak mengeluh soal ukuran kursi, apalagi membandingkan dengan bus-bus yang saya tumpangi sebulan lalu saat jalan-jalan di Jepang. Yang harus dipersalahkan disini tentunya ukuran tubuh saya yang dari hari kehari entah kenapa karena dosa mulut (baca: makan mlulu) makin tumbuh kesamping hahahahah...
Mulanya biasa saja, dan menjadi tidak biasa manakala kami mendapati bus kami diam tak bergerak di perempatan Ciawi hingga pukul 10.00. Abang yang biasanya sabar, kali ini mulai mengutak atik BB, Twiter sampe hampir membanting gadget-nya hanya lantaran sinyal 3G-nya ikut-ikutan kejebak macet (becande). Setelah menimang-nimang beberapa hal kami membuat kesepakatan; kalau sampe jam setengah 11 bus tidak menunjukkan progress yang significant, kami sepakat untuk membatalkan trip kali ini dan kembali ke Jakarta. And seriously, we did it!!!
Semalem sebelum keberangkatan, Abang memang sempat menawarkan; gimana kalo hari ini kami ngendon di Mall saja. Tapi...karena aku yang keras kepala dan memang sudah pengin banget ke Cibodas ga mau ngalah. Feeling guilty then...
Back to Jakarta, back to Abang plan. Karena laper plus masih penasaran ama Bakso Gobyos deket kos-anku, kami sepakat untuk makan dulu baru lanjut nge-mall (loh?). Ga tanggung-tanggung, kami berhasil menculik penguasa Kampung Rambutan (baca; Iqoy) untuk turut serta nge-Gobyos ria. Puas isi perut, bergossip dan menyelesaikan beberapa urusan, Iqoy memutuskan undur diri pulang sementara saya dan Abang menuju America, hahahahh (baca: Grand Indonesia).
Nge-mall today focus pada planning mo nonton pilem. Karena most of pilem yang sedang diputar sudah saya tonton, pilihan jatuh pada Abraham Lincoln. Mulanya saya agak males klo pilemnya perang2an. Tapi setelah nonton, saya berasa di suguhi perpaduan karya Dan Brown yang ciamik dengan mixing antara fiksi dengan fakta plus setting cerita yang bener-bener disulap apik oleh sang Sutradara. Belum lagi, Abe dalam pilem ini mirip banget ama poto2 Abe asli di wikipedia.
Kalau orang-orang mengenal Abraham Lincoln sebagai bapak kemerdekaan Amerika Serikat, di film ini audience akan dihadapkan pada sisi lain dari Abe sebagai vampire hunter namun tetap lekat dengan predikat-nya sebagai Bapak Kemerdekaan. Meski tidak sedetail Dan Brown dalam menghasilkan karya-nya, cukup salut pada Doris Kearns Goodwin yang berhasil menyulap history into a new interesting story.
"I walk slowly, but I never walk backward." - Abraham Lincoln
No comments:
Post a Comment