By Ade Nastiti
![]() |
| Add caption |
See, its not that easy for being a dreamer. And this book, is one of my katalis for heading to Hindustan.
Berkunjung ke India memang tak akan cukup hanya dengan seminggu atau dua minggu. India cukup luas kawan. Belasan kota yang dikunjungi Ade dalam bukunya inipun tak mampu menjamah India seutuhnya. Untuk jalan-jalan ala turis, Delhi dan Agra mungkin akan menjadi destinasi wajib bagi siapapun. Namun, jangan hanya berharap untuk bersenang-senang saat meninggalkan rumah, menapaki "rumah" bangsa lain tak berarti apa-apa tanpa interaksi dan komunikasi dengan penduduknya. Dan Ade, dengan sangat baik memaparkan bagaimana ia mencoba berinteraksi dengan segala penerimaan dan mungkin juga penolakan. Bagaimana ia memaknai setiap perjumpaan dengan siapapun. Swami Ji - Ananda prakash , lulusan komputer University of Texas, yang bertransformasi menjadi seorang "pendeta", nenek Dolma hingga "Perjumpaan dengan Sang Rama."
Dil ka hujra saaf kar jaana ke aane ke liye
bersihkan hatimu untuk Dia yang akan hadir
-Prolog, page 3 -
Berbeda dengan Daniel Mahendra, buku ini tidak begitu detail menggambarkan kondisi fisik maupun latar belakang tempat yang dikunjungi Ade. Namun, silaturahmi dan ikatan yang diciptakan Ade dengan orang-orang yang ia temui akan membuat kita berdecak kagum. Kita akan dibuat iri bagaimana Ade bisa ke Ladakh (Khardung La, Pangong Tso) dengan bantuan orang lokal tanpa harus bersaing (atau mungkin kalian boleh tidak menyebutnya sebagai persaingan) dengan turis asal Eropa maupun Amerika. Atau mungkin, dengan bagaimana ia disambut bak tamu agung oleh rekan asal India-nya, Girish and Sudhir.
Dan diluar itu semua, aku lebih iri atas kunjungannya ke Secmol, ya Secmol. Sebuah sekolah alternatif di Ladakh yang menjadi inspirasi dalam film 3 Idiots. Sekolah super keren menurutku. Sekolah ini tak hanya mengajarkan pendidikan formal, tapi juga kehidupan. Murid-murid diajarkan untuk bekerja sama dalam segala hal. Bercocok tanam dan berternak untuk makan, berbagi tugas membersihkan sekolah dan tempat tinggal, menyiram dan memupuk tanaman. Bahkan, mereka tidak bergantung pada listrik dari pemerintah karena mereka mampu menciptakan energi listrik sendiri. Bahkan, kompos untuk tanaman mereka ciptakan dari kotoran mereka sendiri.
Buku ini recommended bagi siapapun yang bermimpi ke India maupun Nepal. Sebuah referensi ringan untuk kota-kota yang jarang dikunjungi kebanyakan turis, dan mungkin bagi mereka yang ingin melakukan sebuah perjalanan sambil memeluk masyarakat setempat.
"Dan saya menyadari apa yang saya kejar dan cari selama ini hanya berupa tumpukan materi yang membuat saya lelah."
- Swami-Ji -page 16

