Dewi Anjani, demikian ia disebut - sebut sebagai puncak terindah di ranah Asia Tenggara. Seolah berdiri congkak di ketinggian 3.726 meter diatas permukaan laut, puncak Anjani ibarat putri raja menanti sang pujaan hati. Ga tanggung-tanggung, bak di kawal Tujuh Bukit Penyesalan dan Sembilan Bukit Penderitaan, Dewi Anjani menjanjikan kemegahan birunya atap pulau Sunda Kecil lengkap dengan view Segara Anak yang bernaung dalam gaung Nusa Tenggara Barat.
Taman Nasional Rinjani, merupakan taman nasional yang menaungi puncak tertinggi ketiga di Indonesia setelah Cartenz di Papua dan Kerinci di Sumatera. Berlokasi di Lombok bagian Barat, Rinjani dapat di tempuh melalui penerbangan menuju Lombok Praya International Airport (LOP) atau penyeberangan dengan ferry dari kepulauan terdekat.
Kali ini, saya memilih untuk menempuh dua jam perjalanan dari Jakarta menuju Lombok. Sedikit nekat, karena tak ada tiket untuk kembali ke Jakarta saat berangkat. Terlebih, saya belum kenal dengan rekan sejawat yang notabene akan menjadi rekan seperjalanan selama tiga atau empat hari ke depan. Kenapa? Karena Anjani secara mendadak menjadi destinasi impian saya ketika libur "agak panjang" menghadang di depan mata. Sempat galau, mengingat libur tersebut bertepatan dengan idul adha. Tapi saya percaya satu hal, "in the end we only regret the chances we didn't take".
Setibanya di LOP, saya langsung menghambur keluar sembari mencari informasi transportasi termurah menuju desa terdekat dengan Rinjani, desa Sembalun. Sebelumnya saya sempat googling dan blog walking sehingga saya dapat membandingkan informasi dengan hasil riset. Dari airport, kita bisa naik bus DAMRI tujuan Senggigi dan turun di terminal Mandalika (IDR 30K) lalu di lanjutkan dengan mini bus ke AIkmel (IDR 25K). Nah dari Aikmel masih harus menumpang mobil sayur sembari tawar menawar dengan supir. total perjalanan tanpa waktu tunggu sekitar 5 jam. Kalau beruntung, ada charter dari airport dengan biaya IDR 100K per orang. Hemat waktu dan hemat uang karena selisihnya hanya sekitar IDR 15K.
Sayangnya, saya tak berkesempatan mencoba dua metode tersebut. Karena sifatnya yang dadakan, penerbangan kami tidak di beli dalam waktu bersamaan. Mana yang sesuai dengan kantong, itu yang dipilih. Walhasil saya nongkrong di CFC sembari menanti trip mate saya yang baru akan tiba satu setengah jam ke depan.
Sekitar pukul dua siang, kami memutuskan untuk sewa mobil avanza (IDR 400K) untuk langsung menuju ke Sembalun. Nah, kalo kalian pergi bersama banyak kawan, metode ini sama murahnya dengan naik transportasi umum. Kelebihannya, tentu saja perjalanan yang nyaman dan waktu istirahat yang lebih panjang. Esok, hamparan savanna siap menghadang bersama kemarau yang tak berkesudahan.
Driver kali ini bernama Pak X, tak disangka Pak X inilah yang akan banyak berjasa selama saya mendiami pulau yang namanya identic dengan bumbu masak pedas di Nusantara. Bagaimana tidak, beliau menjemput, memperkenalkan kami pada porter yang sekaligus tumpangan kami untuk menginap semalam, dan mengantarkan kami kemanapun. Harga yang ditawarkan juga cukup masuk akal untuk ukuran traveler dadakan dengan waktu yang minim. Nanti akan saya tulis lebih detail contact pak X berikut contact personnya.
Semburat kemerahan sudah mulai menghiasi Sembalun saat kami tiba. Mobil di parkir di area lapangan di sebelah kantor polisi Sembalun dan kami bergegas jalan kaki mengikuti Pak Sopir menuju sebuah pondokan mungil disisi lapangan. Konon, pondok ini milik Pak Anto, porter kenalan yang akan menemani pendakian kami esok hari. Sayangnya, lagi-lagi karena mendadak, Pak Anto tidak ada di tempat.
Tak ada pilihan lain, kami memutuskan untuk menunggu sembari menikmati teh hangat dan ubi rebus yang sangat pas dengan hawa dingin yang mulai turun. Pak Sopir masih dan Istri Pak Anto dengan ramah menemani kami mengobrol hingga Pak Anto tiba.
Tak ada pilihan lain, kami memutuskan untuk menunggu sembari menikmati teh hangat dan ubi rebus yang sangat pas dengan hawa dingin yang mulai turun. Pak Sopir masih dan Istri Pak Anto dengan ramah menemani kami mengobrol hingga Pak Anto tiba.








