Showing posts with label Books. Show all posts
Showing posts with label Books. Show all posts

Saturday, November 17, 2012

Two Travel Tales - Menguak Eksotisme India dan Nepal

Two Travel Tales - Menguak Eksotisme India dan Nepal 
By Ade Nastiti


Add caption
Layaknya sebuah percepatan pada reaksi kimia, sebuah mimpi butuh katalis agar segera menjadi nyata. "Maybe i'm a dreamer, but i'm not alone" kata John Lenon (-Imagine-). Dan ketika kau punya mimpi, bangunlah dari tidurmu, karena tidurmu tidak akan mengubah mimpimu menjadi nyata. 

See, its not that easy for being a dreamer. And this book, is one of my katalis for heading to Hindustan. 

Berkunjung ke India memang tak akan cukup hanya dengan seminggu atau dua minggu. India cukup luas kawan. Belasan kota yang dikunjungi Ade dalam bukunya inipun tak mampu menjamah India seutuhnya. Untuk jalan-jalan ala turis, Delhi dan Agra mungkin akan menjadi destinasi wajib bagi siapapun. Namun, jangan hanya berharap untuk bersenang-senang saat meninggalkan rumah, menapaki "rumah" bangsa lain tak berarti apa-apa tanpa interaksi dan komunikasi dengan penduduknya. Dan Ade, dengan sangat baik memaparkan bagaimana ia mencoba berinteraksi dengan segala penerimaan dan mungkin juga penolakan. Bagaimana ia memaknai setiap perjumpaan dengan siapapun. Swami Ji - Ananda prakash , lulusan komputer University of Texas, yang bertransformasi menjadi seorang "pendeta", nenek Dolma hingga "Perjumpaan dengan Sang Rama."

Dil ka hujra saaf kar jaana ke aane ke liye
bersihkan hatimu untuk Dia yang akan hadir
-Prolog, page 3 - 

Berbeda dengan Daniel Mahendra, buku ini tidak begitu detail menggambarkan kondisi fisik maupun latar belakang tempat yang dikunjungi Ade. Namun, silaturahmi dan ikatan yang diciptakan Ade dengan orang-orang yang ia temui akan membuat kita berdecak kagum. Kita akan dibuat iri bagaimana Ade bisa ke Ladakh (Khardung La, Pangong Tso)  dengan bantuan orang lokal tanpa harus bersaing (atau mungkin kalian boleh tidak menyebutnya sebagai persaingan) dengan turis asal Eropa maupun Amerika. Atau mungkin, dengan bagaimana ia disambut bak tamu agung oleh rekan asal India-nya, Girish and Sudhir.

Dan diluar itu semua, aku lebih iri atas kunjungannya ke Secmol, ya Secmol. Sebuah sekolah alternatif di Ladakh yang menjadi inspirasi dalam film 3 Idiots. Sekolah super keren menurutku. Sekolah ini tak hanya mengajarkan pendidikan formal, tapi juga kehidupan. Murid-murid diajarkan untuk bekerja sama dalam segala hal. Bercocok tanam dan berternak untuk makan, berbagi tugas membersihkan sekolah dan tempat tinggal, menyiram dan memupuk tanaman. Bahkan, mereka tidak bergantung pada listrik dari pemerintah karena mereka mampu menciptakan energi listrik sendiri. Bahkan, kompos untuk tanaman mereka ciptakan dari kotoran mereka sendiri. 

Buku ini recommended bagi siapapun yang bermimpi ke India maupun Nepal. Sebuah referensi ringan untuk kota-kota yang jarang dikunjungi kebanyakan turis, dan mungkin bagi mereka yang ingin melakukan sebuah perjalanan sambil memeluk masyarakat setempat. 

"Dan saya menyadari apa yang saya kejar dan cari selama ini hanya berupa tumpukan materi yang membuat saya lelah."  
- Swami-Ji -page 16

Friday, November 16, 2012

A dream : Journey to the Rooftop of the world

Ketika keinginan telah tercapai dan kita telah berada di sana, semua menjadi selesai dan berhenti seketika. Terkadang proses untuk mencapai sesuatu acap kali jauh lebih bermakna ketimbang tujuan itu sendiri. - page 114 - 
sounds familiar with my favourite quote ever (-To travel is better than to arrive-)

Perjalanan ke Atap Dunia Book Cover - Daniel Mahendra (penganyamkata.wordpress.com
Rooftop of the world..
Atap Dunia...

Entah bagaimana kalian menyebutnya, itu tak akan menjadi masalah. Tak ada halal dan haram didalamnya. Dan entah kenapa, bersamaan dengan keinginanku untuk menginjakkan kaki di India, dimana Namaku diartikan sebagai Kedamaian, tiba-tiba terbersit keinginan untuk sekalian berkunjung ke negeri saudarinya, Nepal, Pakistan, Sri Lanka atau jika memungkinkan, Tibet.

Dan entah kenapa, nama yang terakhir tertanam dalam otakku. Negeri atap dunia, begitu orang menyebutnya. Negeri terjajah yang tetap indah, anggun dalam kultur alam dan budaya. Miris memang, membayangkan para Dalai Lama terusir dari tanah nya sendiri. Menatap tempat ibadah berubah fungsi menjadi obyek wisata komersil dimana keuntungannya lari ke kantong penjajah, bukan yang terjajah. Tapi, diluar semuanya aku tetap ingin kesana.

Berbeda dengan Mekkah, negeri kiblat muslim di seluruh belahan dunia, Tibet merupakan penggalan mimpi yang berbeda. Mekkah membutuhkan aku untuk mau dan mampu dalam arti sesungguhnya. Rukun islam kelima mengharuskan aku kesana. Dan aku akan kesana. Dengan kemampuan hati, niat dan semoga dengan pribadi yang kuharap bukan sekedar "muslimah" dalam konteks busana. Mampu bukan sekedar uang kawan, itu yang selalu para ustadz ajarkan.

Tibet bagiku bukan sekedar keinginan dan tantangan. Sanggupkah aku bermalam 2 hari di kereta, bertahan dengan culture shock dengan komunitas yang sama sekali berbeda di India, Nepal dan China, atau yang paling gampang, menepiskan egoku untuk menerima apapun kebiasaan dan kebudayaan disana dengan tetap bertahan sebagai orang biasa yang sedang belajar menatap dunia yang sesungguhnya. Tapi ketimbang filosofi yang akan banyak dicecar, mari kita bahas ini hanya sebagai keinginan.

Keinginan itu racun kawan, ia mengakar dan meraung sekuatnya. Racun itu tumbuh subur, dipupuk secara sengaja oleh Daniel Mahendra dalam bukunya "Perjalanan Ke Atap Dunia." Sebuah buku yang membuatku terjaga lima jam untuk melahap ke-354 halaman nya. Satu hal yang sudah lama tak kulakukan setelah Harry Potter and the DeathlyHollows pertama keluar versi englishnya.

Berawal dari Komik Tin Tin di Tibet semasa kecil, Daniel cukup berani bermimpi. Tanpa ragu ia menanamkan pada dirinya, "Aku akan ke Tibet." Mimpi itu semula biasa saja, terbayang namun lekang oleh waktu. Tertanam, namun kadang terbenam oleh pekerjaan dan liku kehidupan. Hingga suatu hari, seorang sahabat menantang kesungguhannya untuk pergi ke negeri impian. Dan ia sadar, inilah waktunya mimpi itu dikejar.

Dan bukan ikut-ikutan. Anggap saja aku sedang bermimpi. Mimpiku mungkin sama tinggi dengan Daniel. Negeri yang kami kunjungi akan sama. Dan bukan tak mungkin, aku akan bertemu Pampa, Carloz atau Chen disana. Namun, sungguh aku tidak berharap akan bertemu "Jeanne" disana hahahah... Tapi dalam mimpiku, setidaknya aku percaya, cerita kami akan berbeda. Percayalah, akan kuceritakan segalanya setelah kepulanganku tentunya.

“Aku memang tak pernah mengaku sebagai backpacker. Seingatku, belum pernah aku melabeli diri dengan istilah semacam itu, baik secara lisan maupun tulisan. Tetapi sekadar mengunjungi tempat-tempat wisata ala turis, apa menariknya? Terlampau standar dan belum tentu bisa menangkap aura kehidupan masyarakat yang sebenarnya di suatu negara. Sebagai turis barangkali hal itu tak masalah dan memang tak ada yang salah. Tetapi sebagai penulis, tempat wisata tak selalu mewakili denyut nadi kehidupan lokal yang sebenarnya."



Demikian halnya Daniel menggambarkan dirinya. Jika dia saja bukan, apalagi aku. Dan semoga aku tidak pernah mengaku demikian. Travelling bagiku secara pribadi sejatinya merupakan pelarian, entah lari dari apa. Aku hanya berpedoman, run like there's somewhere to go..and actually.. there's so many places to go.

“Masa muda Daniel. Masa muda. Memang seharusnya begitu. Pergilah ke mana pun kakimu melangkah, itu akan menempamu. Memperkaya pengalaman batinmu. Tetapi pada saatnya tiba, jadilah laki-laki yang merasa cukup dengan keluarga di rumah.” - Page 319

Penggalan paragraph diatas setidaknya membuka mataku akan sesuatu. Untuk dan atas apa aku berlari. Aku hidup, bernapas, dan mencoba untuk bebas. Aku bukan orang yang kaya harta, tapi aku bertekad untuk hidup dengan memberi sebanyak mungkin. Aku bukan manusia luar biasa, tapi tak ada salahnya bermimpi untuk mendapatkan hal-hal yang tidak biasa.

Pergi adalah denotasi "lari" yang kupakai dalam tulisanku. Aku akan pergi, kemanapun aku mau. Dan aku yakin aku akan mampu. Namun aku berjanji, aku akan kembali dan mungkin akan berhenti berlari untuk suatu hal yang tak perlu kukejar atau kucari, karena itu pasti dari Illahi (teruntuk jodoh, mati dan rizki). 


Simply, this book was awesome!!! 
Untuk yang tak pernah berani bermimpi..bermimpilah...


Info: 
Blog penulis : http://penganyamkata.wordpress.com

Wednesday, May 11, 2011

The Wednesday Letters



"Jika Tuhan saja memaafkan, mengapa kita tidak..."


Surat Cinta di Hari Rabu

Heheheheh, begitulah buku itu di translate ke dalam Bahasa Indonesia. Dan kebetulan hari ini, hari Rabu. Jadi inget pada buku itu. Buku bersampul merah, dengan desain menyerupai amplop, plus sebuah surat (lengkap dengan amplopnya) yang dicetak diatas kertas kecokelatan sebagai penanda usianya yang sudah senja.

Buku itu sendiri aq baca dalam rangka "pinjam meminjam" dengan Mommy, aka Dianty Sonia Puruhita (Rhollaz) heheheh ga modal banget yak...

Berkisah tentang "Endless Love" antara sepasang suami istri (Jack and Laurel) dengan "Surat Cinta di Hari Rabu-Nya" yang akan membawa kita pada Noah & Ally dari the Notebook. Hanya saja surat2 Jack and Laurel akan membawa kita pada perjalanan serta ending dari cerita itu sendiri. Ya, karena the Notebook hanyalah opening dari kisah ini...

Kisah cinta Jack and Laurel tidak terputus ketika akhirnya sang pengukir takdir memanggil mereka kembali ke sisi-Nya. Cinta itu mengulurkan tangan, memanggil kembali ketiga buah hatinya kembali ke rumah (Samantha, Malcolm dan Matthew). Mencoba memberi tahu apa yang mereka ingin tahu. Bahkan apa yang mereka tidak mau tahu.

Selain berkisah tentang cinta , layaknya novel pada umumnya. Buku ini mengajarkan bagaimana seseorang senantiasa dihadapkan pada pertanyaan, rasa ingin tahu yang menumbuhkan penderitaan dalam hidup. Dan bagaiman ia mencoba mencari pembenaran hingga jawaban atas pertanyaan itu.

Berkisah tentang betapa besar arti kata memaafkan...

Dan yang membuat saya tersentuh adalah, tak peduli darimana kita berasal..ingatlah..orang yang mem"besar"kan kita, orang tua kita ,,,,selalu menyayangi kita dengan caranya.

I love how the story goes........dan yang terpenting, i've got my favourite quote heheheheheh..happy reading temans!!!!

Thursday, October 28, 2010

Fairish...

Tuhanku..
Bicaralah kepadaku bila aku kesepian
Bisikkanlah dukunganMu bila aku dirundung kecemasan
Dengarkanlah suaraku bila aku jatuh
Sudilah menjadi penghiburan dalam perjalananku
Tempat ku bernaung di waktu panas
Tempat berteduh di kala hujan
Tongkat penuntun di dalam kelelahan
Dan penolong dalam bahaya
Semoga aku berhasil mencapai tujuanku
Sekarang dan juga nanti
Pada akhir hidupku...

Taken from, Fairish by Esti Kinasih

Monday, June 14, 2010

Daun Yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin

Hehehhe...berawal dari ketidaksengajaan nge-add Gramedia on FB, suatu hari muncul info kalo ada novel baru berjudul "Daun Yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin" yang udah rilis. Novel besutan Tere-Liye ini mengingatkan aq pada puisi berantai yang menyebar via office mail bertajuk Pohon & Angin (Cek deh...kalian pasti pernah dapet...). Kata2nya OK..tar kapan2 aq posting deh puisinya...
Yang jelas, novel ini lumayan kok...light story tapi mengajarkan banyak hal tentang hidup...

Berkisah tentang bagaimana Tuhan datang dalam berbagai rupa untuk menolong hambanya. Bagaimana Rasa tumbuh tanpa pandang kasta dan usia. Mengakar kuat, kemudian dipangkas seketika oleh rasa takut. Takut akan sebuah kata yang dieja oleh pergulatan batin dan logika. Takut menemui jawaban atas satu pertanyaan yang tak kunjung terucapkan? Takut akan rasa sakit, kemudian. Dan sekali lagi, takut atas sebuah kata yang mengantarkan tokoh cerita pada luka sepanjang hidupnya. TIDAK.

Pokoknya, beberapa wording dari novel ini bener2 berasa "Aq banget" heheheh, kebodohanku,,,,penyesalanku,,,,,tapi juga mengajarkan aku akan banyak hal. Aq tidak sendirian. Apa yang kualami bukan apa-apa. Hidup yang kujalani..sungguh amat luar biasa. Semua yang terjadi hingga hari ini, masih bukan apa-apa. Harus lebih banyak berguru akan semua hal. Sabar. Ikhlas. Qona'ah. Ayo,,,,kamu bisa.....

Sometimes life gives u more than u've expected...but taken more than u ever had as return..

"prinsip itu akan selalu berubah berdasarkan situasi yang ada di depan kita, disadari atau tidak." page 144

Sunday, September 30, 2007

Tentang aq dan Conan Edogawa


Ini cerita tentang aq, dan Conan Edogawa...

Dulu, mungkin kalian akan menjumpai account friendster dan facebook milik-q berlabel Suntea Edogawa. Yups, Suntea adalah nama panggilan, nama beken ato nick name q dari jaman sekolah (SMU), sedangkan Edogawa taken from Conan Edogawa, the most favourite anime character ever for me.

Conan Edogawa adalah tokoh utama dalam komik besutan Aoyama Gosho dengan title "Meitantei Conan" aka "Detective Conan". . Komik favourite q yang berkisah seputar perjalanan seorang detektif SMU, sebut saja Shinichi Kudo. Shinichi merupakan seorang detektif SMU yang tenar dan kerap membantu penyelesaian kasus yang sedang ditangani kepolisian Tokyo. Suatu hari ketika sedang kencan dengan Ran (Pacar yang sekaligus teman dari SD), dia terlibat penyelesaian scara tak sengaja memergoki transaksi ilegal sebuah organisasi (beken dengan nama Organisasi Kawanan Berjubah Hitam). Karena ketahuan, organisasi memberikannya obat hasil riset yang belum selesai diuji dan belom pernah diujicobakan pada manusia. Aptx4869.

Esoknya, Shinichi terbangun dalam wujud anak SD. Yups, racun tersebut seolah membuat masa pertumbuhannya mundur, jauuuh dari anak SMU ke anak kelas 1 SD. Dalam tubuh kecilnya, Shinichi mengubah identitas menjadi Conan Edogawa. Conan menghabiskan hari-harinya dengan menumpang di rumah Ran Mouri (teman masa kecil sekaligus cewek yang dia taksir) dengan status keponakan jauh Profesor Agasa (tetangganya).

Selain menyembunyikan identitas, dengan menumpang di kediaman Kogoro Mouri (ayah Ran) Conan berharap akan mendapatkan petunjuk mengenai organisasi berjubah hitam. Disisi lain, di sekolah (kelas 1SD) Conan juga memiliki group detektif cilik yang digawangi Conan, Genta, Mitsuhiko, Ayumi dan Ai.

So, ada aja kasus yang akan mewarnai keseharian sang detektif dari Tokyo ini ^^

Heheheh, mungkin untuk kalian sudah lama mengenalku akan tahu betapa aq sangat menyukai karakter Shinichi Kudo (Conan Edogawa), Kaito Kid maupun Heiji Hattori. Even, aq sangat mengagumi sang Mangaka, Aoyama Gosho. Dari jaman sekolah, aq sudah menyisihkan uang sakuku untuk membeli dan mengkoleksi komik-nya.

Can't wait to see another Tankobon - another series/volume.