Saturday, March 26, 2011

Crazy Little Thing Called Love - First Love



All of us...
Have someone who is hidden in the bottom of our heart, When we think about him, we will feel like ummmmm...
Always feel like a little pain inside, but we still want to keep him.
Even though, I don't know where he is today, what is he doing today,,,But he is the one who makes me know this...Crazy little thing called L O V E


That was the prologue of this Thai Movie, simply, silly but that's true, right?

I've been hearing from some friends, comments, and blog-walking, that it was a good movie. The title sounds silly, but i love it hahahahah. So, after a long time being prisoned in Azkaban..there's time for me to Enjoy this movie.

* Movie : A Little Thing Called Love / First Love
* Thai : สิ่งเล็กเล็ก ที่เรียกว่า..รัก
* Director : Puttipong Pormsaka Na-Sakonnakorn and Wasin Pokpong
* Writer : Puttipong Pormsaka Na-Sakonnakorn and Wasin Pokpong
* Producer : Somsak Tejcharattanaprasert and Panya Nirankol
* Cinematographer : Reungwit Ramasudh
* Release Date : August 12, 2010 (In Thailand)
* Runtime : 118 min.
* Distributor : Sahamongkol International and Work Point
* Language : Thai
* Country : Thailand

Cast :

* Mario Maurer – Chon
* Pimchanok Lerwisetpibol – Nam
* Sudarat Budtporm – Inn (Teacher)
* Peerawat Herapath – Phol (Teacher)
* Pijitra Siriwerapan – Aorn (Teacher)
* Acharanat Ariyaritwikol – Top
* Kachamat Pormsaka Na-Sakonnakorn – Pin
*


It was a story about a teenage ugly (bug face) named Nam who was fall in love with her senior "Shone/Chon". A handsome, famous and football player at school.


Her love to Shone lead her to make a change in a good ways. Nam started to change her style, study harder and become a drum band leader at schools. She turned into the swan.


But all of them doesn't make anything become easy. As lenka said, Trouble is a friend. There's Top (Shone's bestfriend) who confessed his feeling to Nam, the one who had unbreakable vow of friendship with Shone, Not to love the same person...never. Loosing her best friend, and still...there's Shone who never know about her feeling. Love, Life, Laugh...

Time goes by, evertyhing changed. Both Nam and Shone would be graduated from school. And still, Nam hasn't confessed her feeling to Shone, while she plan to continue her study (high school)in USA. And when finally she decided to confess her feeling, actually its not end up with happy ending.

But, you know...don't be afraid of the things based on what were you seeing. There's a good quote, "Life’s too short to hide feelings, express how you feel. You never know if they have the same feelings"


So does with this movie...
Just watch it, you will see everything silly that might be you ever do on your teenage story, a crazy loveable person called friends, and the one who give you spirit to pass each day at school, and maybe..a good learning to pass a new day.
I do..

26 March 2011
Blitz Megaplex, Grand Indonesia
With My lovely brother - ABANG
Thank's yaaa..apologize for the addtional story came up after all.

And the next day, i've sent a message to Kun1 and 123Friends.
It's been a long long time ago, but it was like pull out all the carriage in my back. I love you all.

Notes:
OST of the movie are quite good listening, for the lyrics, see Crazy Little Thing Called Love - First Love (OST)

Sunday, March 6, 2011

Return of the condor heroes (2006)


We never stop loving someone...
we just learned to live without him/her

This is one of my favourite TV series since i was child.
Starting with first series by Andy Lau and Idhy Chan (produced in 1983)here the latest version (2006). The most beautiful scene, stories and beautiful Xiau Long Nu.


The story is set at the end of Chinese Song Dynasty, about the forbidden love between Yang Guo (Huang Xiaoming) and Xiao Longnu (Crystal Liu), as well as the heroic epic (fictional) of some martial art masters and a mystical condor.

There are a few storyline in the drama, with the hero and heroin at the centre of the stories…

Xiao Longnu (the heroin) became the master of Yang Guo under odd circumstances despite their similar age. Love prospered between the young couple but their master-apprentice turn lover relationship was seen as taboo in the ancient Chinese, and they had to overcome lots of obstacles to stay with each other…

It was a period of war and chaos, with the remaining of the Song Dynasty’s military against the Yuan’s armies from the north… the lovers were caught within the war and Yang Guo faced the dilemma of losing his lover or to betray his compatriots…

Yang Guo met with a mystical condor after losing his arm; and managed to learn some great martial arts with the help of the condor. He soon became a martial art expert and in the end helped the Song’s armies to defeat the Yuan’s army in a crucial battle…

A bit of spoiler… it is a happy ending at the end of the drama

Monday, February 28, 2011

I give my first love to you



One of my favourite movie...

Takuma, a boy who is told he will die before he’s 20, and Mayu, a girl who is in love with him…

The story begins when they are little kids. Mayu, whose father is a doctor, meets Takuma, who is hospitalized in her father’s workplace. They develop feelings for each other, but Mayu learns of Takuma’s grave illness and that he will die before he turns 20. The distraught children make one promise for an uncertain future.

Time passes, and the girl becomes a young woman, and the boy, a young man. Mayu continues to support and love Takuma. On the other hand, Takuma, who knows his days are numbered, pushes away his feelings for Mayu and distances himself from her. He cannot stand to see her cry or hurt her more than he already has. Then Mayu meets another man who has feelings for her, and Takuma meets a woman who has the same illness, and their feelings for each other begin to waver.

What i've learned from this movie are...
"Live once, and make it meaningful."
Dying is a matter of time, knowing about that earlier wouldn't change anything. Because, even u don't know about it, who knows? Its a big secret of The Creator. Live and Love as much as you can do, because The Lord always give the best for you.

And i'll stand up in this Big-Big World, as a Big Girl..
- My Mom left me when i'm 5 years old
- My lovely Brother left me on my 2nd grade of high school
- My Daddy left me on my final grade of high school
- Samsonite left me on the Lord's will.

But still, i believe that they left me on a purpose.
To make me stronger than before. To work harder than ever. To love another.

Monday, February 14, 2011

Bentuk itu...

Dan hari ini..setelah sekian lama saya kembali memutuskan untuk menulis tentang bentuk itu disini.

Hari ini, 14 February 2011

Hari valentine kata sebagian orang, dan tanpa mengeja maknanya ataupun menelaah kembali kepada asal muasalnya, hari ini dijadikan kebanyakan orang sebagai hari untuk merayakan kasih sayang. Sungguh, tanpa perlu berpikir pelik akan satu dan lain hal anggap saja demikian. Buanglah sementara definisi halal haram, karena hakikatnya saya hanya memandang dari sisi positifnya saja. Hari dimana, beberapa orang mengumpulkan keberanian, untuk berbicara dari hati ke hati dan mengeja kepastian akan itu.

Dan di hari ini pula, tepat 4 tahun yang lalu, keberanian itu datang padaku.
Sungguh, saat itu saya tidak mengenal apa-apa. Atau bisa dikenal, enggan untuk tahu apa-apa. Bodoh. Buta. Bisu. Dan tuli.

Bodoh, karena enggan untuk belajar memahami perasaan seseorang. Buta, karena tidak mampu melihat bagaimana bentuk itu ia wujudkan. Bisu, karena meski bentuk itu ada saya tetap memilih diam. Takut akan sesuatu yang justru menjadi boomerang. Dan tuli, karena sekali lagi tidak mendengar apa yang diteriakkan suara hati.

Namun, satu hal yang masih saya ingat hingga sekarang bahwa "Bentuk itu" datang manakala ia menemani saya menemukan Rumah Tuhan, ketika panggilan untuk menghadap sang Kholiq datang di tengah hingar bingar keramaian. Namun, tetap saja...saya memejamkan mata dan mamangkas habis "bentuk itu" ke akarnya. Seperti kebodohan saya sebelumnya, dan semoga tidak akan berlanjut kemudian.

Dan setahun yang lalu, Sang Pemberani itu telah pergi untuk selamanya. Sang pengukir takdir memintanya kembali kesisinya. Sebelum sempat saya berkata, "Terima kasih untuk semuanya."

Hari ini saya hanya ingin berkata, semoga kasih dan sayang Allah akan senantiasa ia sisihkan untuk-Mu, segala pahala akan ia berikan untuk semua ketulusanmu, dan semoga saya akan tetap berjalan seperti biasa, tanpa pernah berharap bahwa ketika saya menengok ke belakang saya akan menemukan jalan dimana Dia berdiri dan menunggu.

-Menghapus Jejak, Samsonite-

"Faktanya, 88% wanita kabur dari pria yang berusaha membuat mereka bahagia, namun berjuang mati-matian untuk seseorang yang membuat mereka menangis."

Tuesday, February 1, 2011

Cinta ala Sayyidina Ali (Ali Bin Abi Thalib) dan Fathimah binti Rasulillah

Cinta tak pernah meminta untuk menanti.
Ia mengambil kesempatan.
Itulah keberanian.
Atau mempersilakan.
Yang ini pengorbanan.


Pernikahan Ali Bin Thalib dan Fathimah Binti Rasulullah SAW

Ada rahasia terdalam di dalam hati ‘Ali yang tak dikisahkannya pada siapapun (bisa dikatakan Cinta Dalam Hati). Fathimah, karib kecilnya, puteri tersayang dari Sang Nabi yang juga adalah sepupunya itu, sungguh memesonanya. Kesantunannya, ibadahnya, kecekatan kerjanya, parasnya. Lihatlah gadis itu pada suatu hari ketika ayahnya pulang dengan luka memercik darah dan kepala yang dilumur isi perut unta. Ia bersihkan hati-hati, ia seka dengan penuh cinta. Ia bakar perca, ia tempelkan ke luka untuk menghentikan darah ayahnya.

Semuanya dilakukan dengan mata gerimis dan hati menangis. Muhammad ibn ‘Abdullah Sang Terpercaya tak layak diperlakukan demikian oleh kaumnya! Maka gadis cilik itu bangkit. Gagah berani ia berjalan menuju Ka’bah. Di sana, para pemuka Quraisy yang semula saling tertawa membanggakan tindakannya pada Sang Nabi tiba-tiba dicekam diam. Fathimah menghardik mereka dan seolah waktu berhenti, tak memberi mulut-mulut jalang itu kesempatan untuk menimpali. Mengagumkan!

‘Ali tak tahu apakah rasa itu bisa disebut cinta. Tapi, ia memang tersentak ketika suatu hari mendengar kabar yang mengejutkan. Fathimah dilamar seorang lelaki yang paling akrab dan paling dekat kedudukannya dengan Sang Nabi. Lelaki yang membela Islam dengan harta dan jiwa sejak awal-awal risalah. Lelaki yang iman dan akhlaknya tak diragukan; Abu Bakr Ash Shiddiq, Radhiyallahu ‘Anhu. “Allah mengujiku rupanya“, begitu batin ‘Ali.

Ia merasa diuji karena merasa apalah ia dibanding Abu Bakr. Kedudukan di sisi Nabi? Abu Bakr lebih utama, mungkin justru karena ia bukan kerabat dekat Nabi seperti ‘Ali, namun keimanan dan pembelaannya pada Allah dan Rasul-Nya tidak tertandingi. Lihatlah bagaimana Abu Bakr menjadi kawan perjalanan Nabi dalam hijrah sementara ‘Ali bertugas menggantikan beliau untuk menanti maut di ranjangnya.

Lihatlah juga bagaimana Abu Bakr berdakwah. Lihatlah berapa banyak tokoh bangsawan dan saudagar Mekkah yang masuk islam karena sentuhan Abu Bakr, ‘Utsman, ‘Abdurahman ibn ‘Auf, Thalhah, Zubair, Sa’d ibn Abi Waqqash, Mush’ab.. Ini yang tak mungkin dilakukan anak-anak kurang pergaulan seperti ‘Ali.

Lihatlah berapa banyak budak muslim yang dibebaskan dan para faqir yang dibela Abu Bakr, Bilal, Khabbab, keluarga Yassir, ‘Abdullah ibn Mas’ud.. Dan siapa budak yang dibebaskan ‘Ali? Dari sisi finansial, Abu Bakr sang saudagar, insya Allah lebih bisa membahagiakan Fathimah.

‘Ali hanya pemuda miskin dari keluarga miskin. ‘’Inilah perasaudaraan dan cinta’’, gumam ‘Ali.

“Aku mengutamakan Abu Bakr atas diriku, aku mengutamakan kebahagiaan Fathimah atas cintaku.”

Cinta tak pernah meminta untuk menanti. Ia mengambil kesempatan atau mempersilakan. Ia adalah keberanian, atau pengorbanan.

Beberapa waktu berlalu, ternyata Allah menumbuhkan kembali tunas harap di hatinya yang sempat layu.

Lamaran Abu Bakr ditolak. Dan ‘Ali terus menjaga semangatnya untuk mempersiapkan diri. Ah, ujian itu rupanya belum berakhir. Setelah Abu Bakr mundur, datanglah melamar seorang lelaki lain yang gagah dan perkasa, seorang lelaki yang sejak masuk islamnya membuat kaum muslimin berani tegak mengangkat muka, seorang laki-laki yang mampu membuat syaithan berlari takut dan musuh-musuh Allah bertekuk lutut.

‘Umar ibn Al Khaththab. Ya, Al Faruq, sang pemisah kebenaran dan kebatilan itu juga datang melamar Fathimah. ‘Umar memang masuk islam belakangan, sekitar 3 tahun setelah ‘Ali dan Abu Bakr. Tapi siapa yang menyangsikan ketulusannya? Siapa yang menyangsikan kecerdasannya untuk mengejar pemahaman? Siapa yang menyangsikan semua pembelaan dahsyat yang hanya ‘Umar dan Hamzah yang mampu memberikannya pada kaum muslimin? Dan lebih dari itu, ‘Ali mendengar sendiri betapa seringnya Nabi berkata.“Aku datang bersama Abu Bakr dan ‘Umar, aku keluar bersama Abu Bakr dan ‘Umar..“

Betapa tinggi kedudukannya di sisi Rasul, di sisi ayah Fathimah. Lalu coba bandingkan bagaimana dia berhijrah dan bagaimana ‘Umar melakukannya. ‘Ali menyusul sang Nabi dengan sembunyi-sembunyi, dalam kejaran musuh yang frustrasi karena tak menemukan beliau Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam. Maka ia hanya berani berjalan di kelam malam. Selebihnya, di siang hari dia mencari bayang-bayang gundukan bukit pasir. Menanti dan bersembunyi.

‘Umar telah berangat sebelumnya. Ia thawaf tujuh kali, lalu naik ke atas Ka’bah, “Wahai Quraisy“, katanya. “Hari ini putera Al Khaththab akan berhijrah. Barangsiapa yang ingin istrinya menjanda, anaknya menjadi yatim, atau ibunya berkabung tanpa henti, silakan hadang ‘Umar di balik bukit ini!“. ‘Umar adalah lelaki pemberani. ‘Ali, sekali lagi sadar. Dinilai dari semua segi dalam pandangan orang banyak, dia pemuda yang belum siap menikah. Apalagi menikahi Fathimah binti Rasulullah! Tidak. ‘Umar jauh lebih layak. Dan ‘Ali ridha.

Cinta tak pernah meminta untuk menanti.

Ia mengambil kesempatan.

Itulah keberanian.

Atau mempersilakan.

Yang ini pengorbanan.

Maka ‘Ali bngung ketika kabar itu meruyak. Lamaran ‘Umar juga ditolak.

Menantu macam apa kiranya yang dikehendaki Nabi? Yang seperti ‘Utsman sang miiarder kah yang telah menikahi Ruqayyah binti Rasulullah? Yang seperti Abdul ‘Ash ibn Rabi’kah, saudagar Quraisy itu, suami Zainab binti Rasulullah? Ah, dua menantu Rasulullah itu sungguh membuatnya hilang kepercayaan diri.

Di antara Muhajirin hanya ‘Abdurrahman ibn ‘Auf yang setara dengan mereka. Atau justru Nabi ingin mengambil menantu dari Anshar untuk mengeratkan kekerabatan dengan mereka? Sa’d ibn Mu’adzkah, sang pemimpin Aus yang tampan dan elegan itu? Atau Sa’d ibn ‘Ubaidah, pemimpin Khazraj yang lincah penuh semangat itu?

“Mengapa bukan engkau yang mencoba kawan?“, kalimat teman-teman Ansharnya itu membangunkan lamunannya. “Mengapa engka tak mencoba melamar Fathimah? Aku punya firasat, engkaulah yang ditunggu-tunggu Baginda Nabi..“

“Aku?“, tanya ‘Ali tak yakin.

“Ya. Engkau wahai saudaraku !“

“Aku hanya pemuda miskin. Apa yang bisa kuandalkan?“

“Kami di belakangmu, kawan! Semoga Allah menolongmu. “

‘Ali pun menghadap Sang Nabi. Maka dengan memberanikan diri, disampaikannya keinginannya untuk menikahi Fathimah. Ya, menikahi. Ia tahu, secara ekonomi tak ada yang menjanjikan pada dirinya. Hanya ada satu set baju besi di sana ditambah persediaan tepung kasar untuk makannya. Tapi meminta waktu dua atau tiga tahun untuk bersiap-siap? Itu memalukan! Meminta Fathimah menantikannya di batas waktu hingga ia siap? Itu sangat kekanakan! Usianya telah berkepala dua sekarang.

“Engkau pemuda sejati wahai ‘Ali!“, begitu nuraninya mengingatkan. Pemuda yang siap bertanggungjawab atas cintanya. Pemuda yang siap memikul resiko atas pilihan-pilihannya. Pemuda yang yakin bahwa Allah Maha Kaya. Lamarannya berjawab, “Ahlan wa sahlan!“. Kata itu meluncur tenang bersama senyum Sang Nabi.

Dan ia pun bingung. Apa maksudnya? Ucapan selamat datang itu sulit untuk bisa dikatakan sebagai isyarat penerimaan atau penolakan. Ah, mungkin Nabi pun bingung untuk menjawab. Mungkin tidak sekarang. Tapi ia siap ditolak. Itu resiko. Dan kejelasan jauh lebih ringan daripada menanggung beban tanya yang tak kunjung berjawab. Apalagi menyimpannya dalam hati sebagai bahtera tanpa pelabuhan. Ah, itu menyakitkan.

“Bagaimana jawab Nabi kawan? Bagaimana lamaranmu?“

“Entahlah.. “

“Apa maksudmu?“

“Menurut kalian apakah ‘Ahlan wa Sahlan’ berarti sebuah jawaban?“

“Dasar tolol! Tolol!“, kata mereka, “Eh, maaf kawan. Maksud kami satu saja sudah cukup dan kau mendapatkan dua! Ahlan saja sudah berarti ya. Sahlan juga. Dan kau mendapatkan Ahlan wa Sahlan kawan! Dua-duanya berarti ya!“

Dan ‘Ali pun menikahi fathimah. Dengan menggadaikan baju besinya. Dengan rumah yang semula ingin disumbangkan ke kawan-kawannya tapi Nabi berkeras agar ia membayar cicilannya. Itu hutang.

Dengan keberanian untuk mengorbankan cintanya bagi Abu Bakr, ‘Umar, dan Fathimah. Dengan keberanian untuk menikah. Sekarang. Bukan janji-janji dan nanti-nanti.

‘Ali adalah gentleman sejati. Tidak heran kalau pemuda Arab memiliki yel, “Laa fatan illa ‘Aliyyan! Tak ada pemuda kecuali ‘Ali!“. Inilah jalan cinta para pejuang, Jalan yang mempertemukan cinta dan semua perasaan dengan tanggung jawab. Dan di sini, cinta tak pernah meminta untuk menati. Seperti ‘Ali. Ia mempersilakan. Atau mengambil kesempatan. Yang pertama adalah pengorbanan. Yang kedua adalah keberanian.

Dan ternyata tak kurang juga yang dilakukan oleh Putri Sang Nabi, dalam suatu riwayat dikisahkan bahwa suatu hari (setelah mereka menikah), Fathimah berkata kepada ‘Ali, “Maafkan aku, karena sebelum menikah denganmu, aku pernah satu kali jatuh cinta pada seorang pemuda“.

‘Ali terkejut dan berkata, “Kalau begitu mengapa engkau mau menikah denganku? Dan siapakah pemuda itu?“

Sambil tersenyum Fathimah berkata, “Ya, karena pemuda itu adalah dirimu!“.

. . .

Kemudian Rasulullah SAW mendoakan keduanya:

“Semoga Allah mengumpulkan kesempurnaan kalian berdua, membahagiakan kesungguhan kalian berdua, memberkahi kalian berdua, dan mengeluarkan dari kalian berdua kebajikan yang banyak“.

[Kitab Ar-Riyadh An-Nadhrah 2:183, bab 4]

. . .

“Dan nikahkanlah orang-orang yang masih sendirian di antara kamu, dan juga orang-orang yang layak (menikah) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memberi kemampuan kepada mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui“. (Q.S. An Nuur, 24: 32)