Finally, datang juga kesempatan buat berkunjung ke negerinya para Laskar Pelangi. Kalo dulu selalu kenalan sama Ikal, Lintang, Arai dan kawan-kawan via buku karya Andra Hirata, kali ini Alhamdulillah bisa langsung turut serta memantau kilas balik lokasi cerita yang juga sudah pernah difilmkan tersebut.
Perjalanan dimulai dengan flight paling pagi dari Jakarta Soekarno Hatta ke Bandara Pangkal Pinang (Belitong) menggunakan pesawat Citilink. Supaya hemat, saya sepakat dengan rekan-rekan dikantor untuk patungan. Alhasil shubuh-shubuh rekan saya sudah ada didepan portal dan kamipun siap melanglang buana bersama Lintang.
Kenapa Lintang? Lintang adalah tokoh lascar pelangi favorit saya. Lahir dari keluarga yang jauh dari kata mampu, Lintang tumbuh menjadi seseorang yang tegar dan pintar. Tegar manakala harus mengayuh sepeda berpuluh-puluh kilometer jauhnya ke sekolah meski terkadang sering terpaksa meninggalkan tugas belajarnya untuk bekerja. Pintar karena dari kesekian tokoh, Lintang memang memiliki otak brilian. Namun semua itu tidak cukup boy, meski pepatah hebat selalu berkata “Jangan pernah menyerah untuk sesuatu yang benar-benar kita inginkan”, apa daya kalo sesuatu itu terbentur dengan beberapa hal termasuk uang dan keluarga.
Perjalanan di tempuh kurang dari satu jam. Pesawat yang mayoritas di isi oleh karyawan perusahaan saya, spontan membuat saya gembira sekaligus takut. Gembira lantaran bisa haha hihi sepuasnya selama perjalanan dengan banyak orang, takut Karena hal yang tidak perlu diceritakan detail disini karena hari ini saya masih bisa menceritakan kembali perjalanan saya.
Setibanya di Belitong, petugas tour mengarahkan sebagian rombongan untuk menikmati sarapan khas kota ini; Mie Atep. Mie telor kuning yang disajikan dengan potongan kentang dan tahu bersama kuah kental dan sambal. Beberapa teman langsung mengosongkan piring dihadapan mereka lantaran lapar, bahkan ada yang malu-malu sebelum memutuskan untuk memesan porsi kedua. Sementara saya, cukup icip-icip sewajarnya dan mulai mengaduk ga jelas adonan di depan saya. Yes, I am a picky eater.
Selepas makan, kami berturut-turut menikmati indahnya gradasi warna danau kaolin berikut batuan kapurnya, berpanas-panas menapaki butiran pasir di halaman replica SD Gantong, Berkunjung ke museum kata pertama di Indonesia yang didirikan oleh Andrea Hirata sebelum akhirnya kembali beranjak menuju salah satu rumah makan untuk makan siang. Yang menarik, lokasi makan siang kali ini berada di kompleks warung kopi yang memang menjadi ciri khas Manggar yang menjadi setting cerita.
Puas jalan-jalan sepagian, tibalah waktunya melepaskan penat dan beristirahat sejenak di hotel. Berbersih diri menjadi wajib lantaran aka nada rangkaian acara lagi dari pihak tour mala mini. Karena dasarnya saya ga bisa diam di tempat, saya memutuskan untuk menghabiskan sore dengan berkeliling di seputaran hotel. Lokasi hotel yang berada tepat diseberang pantai, membuat saya membangun mimpi untuk bersalaman dengan sunset di Belitong. Alhamdulillah terkabul.
Selain sunset, saya juga berkesempatan berkenalan dengan salah satu keunikan Belitong. Sempat bingung manakala jalanan di blockade bocah-bocah lelaki yang berlarian hanya dengan mengenakan celana pendek. Tubuh dan wajah mereka dipenuhi adonan lumpur maupun batu kapur putih. Di sisi luar, para orang tua dan keluarga dengan sabar menanti salah satu bocah untuk berlari kearah mereka. Sayangnya, saya belum berkesempatan menyaksikan runtutan acara secara keseluruhan.
Puas jalan-jalan sore, saya kembali ke hotel dan membaur bersama yang lain untuk menikmati makan malam secara adat Belitong. Diawali dengan tari-tarian khas Belitong, kami berangsur-angsur memenuhi baigan utama rumah. Tak lama, rombongan besar dipecah menjadi masing-masing 4 orang lengkap dengan aneka sajian dan tata caranya. Uniknya, tata cara makan ini akan sangat dipengaruhi oleh factor usia. Siapa yang lebih tua, berhak untuk mencicipi makanan terlebih dulu, so menjadi tua ga selalu mengerikan kok ^^
Masing-masing menunya memiliki bentuk dan cita rasa yang unik. Namun sungguh saya mohon maaf, tak satupun dari menu tersebut yang cocok dengan lidah saya. Akibatnya, beberapa teman langsung lanjut memesan indomie di beberapa kios yang tepat berlokasi di seberang hotel.
Meski masalah perut tidak terpenuhi, saya kembali ke hotel dan memutuskan untuk melakukan persiapan untuk acara esok hari bersama yang lain. Dan dari sinilah saya mendapatkan sunset kedua saya hari ini. Sunset yang membuat saya harus mulai belajar melupakan indahnya Indonesia dengan berdiri di salah satu dataran tertingginya. Yang membuat mulai mengerti, betapa bahagianya bisa berlari. Dan betapa menyenangkannya berjalan.
Seperti ada yang robek ketika saya melompat, dan semakin robek saat kaki kiri saya mendarat pelan di lantai. Semua akan baik-baik saja, ujarku sembari menghibur diri. Meski kenyataanya tidak, saya harus berlapang dada menerima kenyataan bahwa saya mulai pincang. Saya beringsut kembali ke kamar, mencoba melakukan beberapa gerakan normal namun berakhir dengan kelelahan, tertidur dan berharap bahwa sunrise akan segera datang.