Saturday, August 21, 2010

Surat untuk Tuhan,

Alhamdulillah...
Hanya kata itulah yang bisa kuucap. Atas segala nikmat hingga hari ini. Atas semua kesempatan yang dihadiahkan oleh -Nya dalam hampir seperempat abad kelancangan dan ketidak-tahudiri-an-ku singgah di dunia ini. Astaghfirullah...

Baru saja tanpa sadar menangis setelah membaca sebuah "notes" seorang teman di Facebook sebuah notes yang simple, namun penuh makna menurutku...

Ssssttt .... Ini Surat buat Mbak Tia ya ... :)
by Nita Rossana on Friday, August 20, 2010 at 11:59 pm
dikutip dari www.facebook.com/notes.php?id=618154314#!/nrossana

Mama sibuk!
Tapi nggak ada alasan buat Mama untuk ngga nelepon Mbak Tia berkali-kali dalam sehari ..
Mama capek!
Tapi nggak jadi capek kalo ndengerin Mbak Tia cerewet ..
Mama duitnya baru ada sedikit .. kadang-kadang malah cuman seiprit!
Tapi nggak ada alasan buat Mama untuk nggak mencukupi kebutuhan Mbak Tia ..

Tapi sekarang Mama bener-bener minta maaf ya Nak ..
Mama belum bisa pulang mewujudkan mimpi Mbak Tia ..
Jadi malaikat berbaju putih sambil pegang tongkat ajaib ..
Yang ada di depan Mbak Tia waktu bangun tidur ..

Sekarang Mbak Tia umur 8!
Wah! Anak Mama sudah besar ...
Tingginya sudah 120 cm!
Sebentar lagi kita tingginya sama deh :)

Maaf ya Cantik ...
Mama ngga bisa ngasih kado istimewa di ulang tahunmu tahun ini ...
Mama belum bisa mewujudkan keinginan-keinginanmu ... yang seringkali terlalu sederhana!

Mama belum bisa mencium keningmu setiap malam ..
Tapi percaya ya ... doa Mama ada setiap kali Mama bernafas ..

Buat Mbak Tia :)
Jadi Anak Mama yang pintar ya, Sayang ..
Mama percaya .. meskipun Mama jauh ..
Tapi Allah selalu menjaga Mbak Tia buat Mama ..
I love you .. dan Mama percaya Mbak Tia juga sayang Mama ... ;)

Selamat Ulang Tahun, Kembaranku ...
Percaya deh ... Mama akan selalu ada buat Mbak Tia ...
Dan suatu hari nanti .., kita pasti sama-sama lagi .. :)

Selamat Ulang Tahun, Cintaku ..
Peluk cium Mama selalu buat Angelita-ku

- Mama -


Membuat aku tiba-tiba terbersit, bagaimana jika aku yang mendapatkan surat itu. Bagaimana jika aku akan memiliki surat-surat semacam itu sepanjang hidupku. Bagaimana jika "Ia" masih bersamaku hingga hari ini, akankah aku sekuat dan setegar sekarang...akankah aku disini dan bukannya meringkuk manja menuntut cerita seputar perjalanan kami setiap harinya. Dan bagaimana jika (what if) yang lainnya...

Lalu aku sadar, aq tidak akan memiliki surat2 itu, karena Allah sudah memintanya untuk kembali ke sisinya 20 tahun yang lalu. Saat aku tak perlu belajar bagaimana hidup seharusnya berjalan. Saat tak begitu banyak kenangan yang terekam dalam otakku. Saat aku menangis, tanpa tahu dan berpikir tentang apa yang akan terjadi dengan hidupku esok hari.

Namun aq selalu rajin menulis surat untuk-Nya di hari Kamis. Selepas Maghrib biasanya. Surat wajib yang membuatku tak boleh dan tak bisa tidur sebelum kutitipkan pada Sang Kholiq. Kupanjatkan pada sang Pencipta, untuk selalu menjaganya, mengampuni semua dosa-dosanya dan memesan satu tempat disurga untuk-Nya (teruntuk Ibu, Bapak, kakak-q yang paling keren "Tameng", dan kakak2 ku yang laen yang (belum sempat ku kenal) dan telah bersama-Nya tentunya). Ku jenguk ia setiap aq ada waktu luang pulang ke Surabaya.

Dan aku kembali sadar, aku tidak perlu kecewa tanpa surat2 itu. Karena Sang Pencipta memberiku hadiah luar biasa. Ia memberiku orang tua baru yang tak kalah hebat dengan orang tua manapun. Yang mengajari aku menulis surat di hari Kamis, yang memberiku surat dalam setiap kata yang terucap. Yang memahat diriku menjadi diriku yang sekarang. Dan yang selalu berkata kepada dunia,,,,bagaimana dan seperti apa aku dulu, sekarang,,,ataupun nanti..aku akan selalu jadi kebanggaan mereka.

Thank's to Allah for giving me Mr. Al Giadi and Mrs. Maryam as my second parents.Dan akupun menulis surat kepada Tuhan untuk mereka. Di hari kamis juga. Karena aq menyayangi mereka semua. Equal. Tak ada bedanya.

Thank's for loving me all the time.....

No comments:

Post a Comment