Wednesday, July 15, 2009

L o v e , Phrase and Poison

“Kasih itu sabar; kasih itu murah hati. Ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu.” 
A walk to remember, Nicholas Sparks (Korintus)


Ada banyak alasan aq menjadikan hal ini sebagai tema dalam catatanku kali ini,
mengisi waktu luang ketika profesiku tidak menyediakan pekerjaan serta mencoba memahami apa yang sedang terjadi disekelilingku,

Pertama,
aq mendapati seorang teman yang membuatku syok bukan kepalang di Bandara Soekarno Hatta setelah tiga bulan lamanya ia meninggalkan Jakarta. Bisa satu halaman sendiri jika aq bercerita tentangnya. Sahabat karibku yang manis, cantik, seksi dan murah hati terlihat begitu kurus dan lesu saat itu.Tulang lehernya menonjol, membuat aq pontan membatin, betapa menyakitkan CINTA itu, karena ia menghanguskan keceriaan seseorang dalam sekejap. Ibarat Dementor, ia menghisap setiap tetes kebahagiaan yang tersisa dari pikiran seseorang.

Sahabatku yang malang, cinta itu pergi tanpa bekas setelah 10 tahun singgah dan mewarnai hidupnya. Pupus perlahan dan menyisakan onggokan sampah kekecewaan yang menurutku lebih dari sekedar keterlaluan. Dan aku kembali berkata,Jika sungguh cinta itu hal yang demikian, biarkan CINTA itu datang padaku nanti, karena kini kami harus membuat sahabatku tersenyum lagi. 

Kedua,
Cinta itu Sabar. Sepenggal kalimat yang dapat kusimpulkan dari pengamatanku akan kehidupan seseorang yang sangat dekat denganku. Memilih menikah diusia belasan, bertandang sebagai single parent di usia 20-an. Hiks, membuat aku malu, ketika aku masih saja mempertanyakan, dimana keadilan Sang Pelukis Alam.
Dia yang keibuan, sabar menekuni hidupnya sebagai seorang istri dengan suami yang terganggu kesehatan syarafnya. Tulus menerima keadaan menjadi ibu (sekaligus single parent) bagi putranya. Ikhlas, menjalani takdirnya tanpa lelah dan putus asa.

Jika, CINTA itu hal yang demikian,,,,biarkanlah aku belajar Ya Robb, karena engkau senantiasa ada disisi orang2 yang sabar...

Ketiga,
Cinta itu persahabatan.
Mungkin agak lucu untuk yang satu ini, karena berawal dari sebuah film drama dari tanah hindustan yang cukup populer, KUCH KUCH HOTA HAI yang membuat ibuku menangis berkali-kali kapanpun ia menontonnya...Film ini bercerita, bahwa tanpa kita sadari..dalam menjalani kehidupan, bagaimana kita akan menghabiskan sisa waktu yang dianugerahkan Tuhan untuk kita, Seorang sahabat adalah jawaban yang paling masuk akal...

Dalam sahabat itu ada Cinta, yang menurut orang berbeda dengan "Cinta" pada umumnya, tapi tanpa kau sadari...ia hanya berubah bentuk...sebagaimana kau merasa sakit manakala sahabatmu berdusta, bahkan meninggalkanmu untuk selamanya. Tapi ia membuatmu jadi diri sendiri, tanpa perlu menjadi orang lain...tak perlu menyembuyikan sesuatu atu memungkiri sesuatu...

No comments:

Post a Comment