Tuesday, September 29, 2015

Lebaran Haji di Kaki Rinjani

Sebagai Negara yang mayoritas penduduknya muslim, peringatan hari besar keagamaan umat Islam kerap terasa kental dalam keseharian masyarakat. Tak ayal, peringatan hari besar tersebut telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari daftar hari libur nasional. Seperti beberapa waktu lalu, 24 September 2015 di tetapkan sebagai hari libur nasional dalam rangka memperingati hari raya Idul Adha.

Hari raya Idul Adha, yang juga di kenal sebagai hari raya qurban atau hari raya haji merupakan hari besar keagamaan terbesar kedua bagi umat muslim selain hari raya Idul Fitri. Disebut hari raya qurban karena pada hari raya ini umat muslim di anjurkan untuk melakukan qurban; proses penyembelihan binatang ternak yang dagingnya dibagikan kepada masyarakat sekitar. Penyembelihan hewan qurban sendiri diilhami oleh kisah Nabi Ibrahim SAW yang diuji oleh Allah dengan perintah untuk menyembelih puteranya, Nabi Ismail SAW. Selain itu, disebut hari raya Haji karena kurban dilaksanakan bersamaan dengan waktu pelaksanaan ibadah haji.

Pada hari raya haji, sebelum melaksanakan proses penyembelihan hewan qurban, umat muslim berkumpul bersama untuk melaksanakan shalat hari raya. Termasuk saya, yang notabene tiba-tiba punya inisiatif cepat untuk menghabiskan libur yang ada dengan menyambangi puncak gunung tertinggi ketiga di Indonesia, Dewi Anjani, 3.726 Mdpl yang berlokasi di kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani di Lombok.

Awalnya saya harus gigit jari karena sempat berpikir akan kehilangan kesempatan untuk menunaikan shalat hari raya lantaran sedang dalam perjalanan menuju desa Sembalun, desa terdekat sebelum memasuki kawasan taman nasional. Namun Alhamdulillah, saya tiba dilokasi pada malam hari dan sempat beristirahat di rumah penduduk local. Lebih lagi, sang pemilik rumah setuju membawa kami untuk shalat hari raya bersama di masjid terdekat.

Keesokan harinya, berbekal kaos raglan dibalut jaket gunung, celana kargo dan pashmina yang disulap menjadi hijab seadanya saya sudah berubah menjadi "Aisyah" hehe. Bersama Dirga dan Fakhri; rekan seperjalanan menuju Anjani yang baru saya kenal kemarin; serta keluarga Pak Anto (porter Rinjani yang sudi membantu dan menampung kami sebelum, selama dan setelah pendakian), kami berangkat menuju masjid.

Masjid Jabalul Rinjani. Teriak sebuah papan nama yang terpampang pada bagian kanan luar bangunan. Meski Sembalun bukan tergolong desa padat penduduk, masjid mungil tersebut tak mampu menampung seluruh jamaah pagi itu. Alhasil, sebagian jamaah sudah mempersiapkan diri dengan mambawa tikar di rumah dan mendirikan shaf di halaman.

Layaknya shalat idul fitri, shalat idul adha dilaksanalkan dua rakaat dengan masing-masing tujuh dan lima takbir pada rakaat pertama dan kedua. Tak lupa, sang imam menyampaikan siraman rohani pada akhir ibadah.

Berlebaran haji mungkin bukan hal yang baru bagi kita semua, tapi berlebaran haji di kaki Rinjani sungguh memiliki kesan tersendiri. Pemikiran hilang kesempatan berbalik menjadi kejutan yang menyenangkan. Dan kejutan itu berulang saat saya tiba-tiba mengenali seseorang saat akan beranjak pulang. Gadis berbalut mukenah dihadapan saya menyeringai riang, setengah teriak saya menyebut namanya kegirangan. Kejutan itu bernama Mbak Nur, seorang kawan dari Palembang yang ternyata baru saja turun dari Rinjani. Sementara kami baru akan memulai perjalanan.

Me and Mbak Nur, selepas shalat Ied di Masjid Jabalul Rinjani
Terima kasih Gusti, atas kesempatan dan perjumpaan ini. Sungguh sebuah nikmat yang tak terperi, terangkum dalam sebuah pagi saat lebaran haji di kaki rinjani.

Sembalun, 24 September 2015

2 comments: