Monday, September 21, 2015

Bentuk lain pengabdian - The Traveler's Wife

The traveler's wife, demikian judul yang didaulat oleh Mbak Tias Tatanka dalam bukunya yang published pada Maret 2015 yang lalu. Usut punya usut, ternyata judul buku tersebut juga merupakan blog pribadi penulis yang bisa kita kunjungi di http://tiastatanka.blogspot.com

Saya sendiri mengenal nama Mbak Tias di sela-sela blog-walking yang rajin saya lakukan sebelum melakukan debut solo traveling ke India pada tahun 2013. Kala itu, saya tersesat dalam salah satu tulisan Gol A Gong yang notabene suami Mbak Tias. Disana dia menyinggung keinginan istrinya untuk di cium di hadapan symbol cinta terkemuka sepanjang masa, Taj Mahal.

Siapa sangka, tepatnya minggu lalu saat ke toko buku; mata saya tertuju pada judul buku yang cukup memaku keinginan saya untuk membacanya. The traveler's wife.

Mungkin itu merupakan bagian dari salah satu dari sekian mimpi maupun definisi saya tentang suami idaman. Atau mungkin hanya sebuah panggilan yang menurut saya cukup membanggakan. Atau mungkin, itu hanya iri hati yang mungkin harus segera saya obati.

Dan diluar halusinasi dan kompromi akan entah apapun alasannya, saya sudah terduduk manis di kamar kosan sembari mulai mengeja kata demi kata yang terpatri pada ke 242 halaman buku terbitan Salsabila tersebut.


Hanya dalam hitungan belasan lembar pembuka, saya sudah mulai jatuh cinta.


"Salah satu cara meringankan hati adalah dengan bergerak, berjalan dan tidak berada di satu tempat dalam waktu lama. Dengan begitu, kenangan akan tergeser oleh hal-hal baru yang dinamis." - Page 16


Bait tersebut mengingatkan saya pada salah satu penggalan catatan Sang Suami, manakala dia bertekad menghapus kenangan nya akan India dengan kenangan baru yang ia ciptakan bersama sang Istri. 

"Hidup terlalu indah untuk diganggu sekedar kenangan!!" Mbak Tias menjawab dalam bukunya, tepatnya halaman 81.


The traveler's wife menuturkan pengabdian seorang istri pejalan. Bagaimana menjadi ibu, pasangan hidup, anak, menantu dan rekan perjalanan tak hanya sebuah perjuangan dan pengorbanan, melainkan sebuah ujian. Dan ujian itu bukan untuk di ratapi, tapi di hadapi dengan ikhtiar dan berserah diri.

Memiliki pasangan seorang pejalan mengharuskan kita untuk rela tidak bersama entah dalam kurun waktu sehari, dua hari, sebulan atau bahkan menahun. Bahkan lebih dari sekedar LDR, ada keluarga yang harus di didik, di jaga dan di "hidupkan" kehidupannya tanpa kehadiran seseorang didalamnya. Dan yang terburuk, adalah meninggalkan semuanya untuk menjadi pendamping, teman seperjalanan bagi sang Pejalan. Demi sebuah mimpi terpuji, yang insyaallah berkah bagi diri sendiri, keluarga dan orang lain.

Saya pribadi gemar melakukan perjalanan, entah sendiri, berdua maupun rame-rame dengan beberapa kawan. Pergi sendiri menjadikan saya raja dan acapkali bepergian tanpa itinerary. Sedangkan teman seperjalanan mengharuskan saya belajar bahwa ada keinginan dan pemikiran lain yang mungkin harus didengarkan dan diwujudkan. Disinilah konflik perjalanan seringkali bermunculan.

Terkagum dengan setiap pemecahan masalah yang dituturkan Mbak Tias dalam perjalanannya menemani sang suami. Tujuh Negara dalam empat puluh delapan hari yang notabene kebanyakan tidak berjalan mulus sesuai itinerary. Terlebih, kesabarannya untuk konsisten mengingatkan sang suami, manakala tembok petualangan dan ibadah harus benar-benar di eja dalam konteks tersendiri.

Beribadah sambil berpetualang. Berumrah atau haji jalur darat via Qatar. Saya familiar dengan ide tersebut. Bagaimana tidak, di tahun-tahun awal ketika saya mulai jatuh cinta dengan sebuah perjalanan; berbagai metode sudah saya kerahkan untuk mengeksekusi ide tersebut. Possible but impossible for me as a woman.

Wanita merupakan makhluq Tuhan yang terkadang susah dibaca dan di pahami perilaku dan perkataannya. Waktu dan kesabaran yang akan mengungkap segalanya. Dan di buku ini, seiring waktu, satu demi satu dengan jujur mbak Tias mencoba mengungkapkan isi hatinya. Mencoba berbagi, dengan para istri dan para calon istri.

Pejalan atau bukan, saat ini tak jadi soal bukan? Karena buat saya dalam buku ini saya belajar bentuk lain dari sebuah Pengabdian.

No comments:

Post a Comment